Monday, August 24, 2020

KEGIATAN MENGALOKASIKAN DANA

 <script data-ad-client="ca-pub-4611340435162716" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>


 

 

 

KEGIATAN MENGALOKASIKAN DANA

 

 

A.  Pengertian Pengalokasian Dana

 

Alokasi dana merupakan kegiatan menjual kembali dana yang dihimpun dalam bentuk simpanan. Dalam pengalokasian dana pihak bank harus dapat memilih  dan mempertimbangkan berbagai alternative  sehingga memperoleh keuntungan yang seoptimal mungkin. Pengalokasian dana dapat diwujudkan dalam bentuk pinjaman atau dengan istilah  kredit. Pengalokasian  dana dapat pula dilakukan dengan membelikan berbagai asset yang dianggap menguntungkan bank.

Faktor- faktor sumber dana dan alokasi  dana memegang  peranan penting di dunia  perbankan.  Penentuan bunga sumber dana akan  berpengaruh  terhadap  bunga alokasi  dana yang akan dibebankan.  Kegiatan  alokasi  dana yang terpenting tersebut adalah alokasi dana dalam bentuk pinjaman atau lebih dikenal dengan kredit bagi bank berdasarkan prinsip konvensional dan pembiayaan bagi bank yang berdasarkan prinsip syariah.

B.   Pengertian Kredit dan Pembiayaan

 

Menurut Undang- undang Perbankan nomor 10 Tahun  1998, kredit  adalah penyediaan  uang atau  tagihan  yang  dapat dipersamakan  dengan itu,  berdasarkan persetujuan atau  kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Sedangkan pembiayaan adalah  penyediaan uang atau  tagihan  yang dapat dipersamakan  dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan  antara bank


 

 

dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan bagi hasil.

Yang menjadi perbedaan  mendasar  antara kredit  yang diberikan oleh bank berdasarkan konvensional dengan pembiayaan  yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip syariah adalah terletak pada keuntungan yang diharapkan. Bank yang berdasarkan prinsip konvensional keuntungannya melalui bunga, sedangkan bank yang berdasarkan prinsip syariah keuntungan yang diperoleh melalui imbalan atau bagi hasil.

C.   Unsur- unsur Kredit

 

1.   Kepercayaan

 

Kepercayaan  merupakan keyakinan  pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan akan benar- benar diterima kembali di masa tertentu di masa yang akan datang.

 

 

 

2.   Kesepakatan

 

Kesepakatan   dituangkan  dalam   suatu  perjanjian   di  mana  masing-   masing   pihak menandatangani hak dan kewajibannya masing- masing.

3.   Jangka waktu

 

Jangka waktu ini mencakup  masa penegembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu bisa berbentuk jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang.

4.   Risiko

 

Adanya suatu tenggang  waktu  pengembalian  akan  menyebabkan  suatu risiko  tidak tertagihnya kredit yang diberikan. Semakin  panjang suatu kredit maka semakin  besar risikonya begitupun sebaliknya.


 

 

5.   Balas jasa

 

Balas jasa adalah keuntungan atau pemberian suatu kredit atau jasa tersebut yang kita kenal dengan istilah bunga.

D.  Tujuan dan Fungsi Kredit

 

Adapun tujuan utama pemberian kredit yaitu :

 

1.   Mencari keuntungan

 

Kredit bertujuan untuk memperoleh hasil dari pembiayaan kredit tersebut yang dimana berbentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah.

2.   Membantu usaha nasabah

 

Kredit  bertujuan untuk membantu usaha  nasabah  yang memrlukan dana , baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja.

3.   Membantu pemerintah

 

Dalam konteks ini,  keuntungan bagi pemerintah yaitu  penerimaan  pajak, membuka kesempatan kerja, meningkatkan jumlah barang dan jasa, menghemat devisa Negara, dan meningkatkan devisa Negara.

Adapun fungsi pemberian kredit yaitu diantaranya :

 

1.  Untuk meningkatkan daya guna uang

 

2.  Untuk meningkatkan peredaran lalu lintas uang

 

3.  Untuk meningkatkan daya guna barang

 

4.  Untuk meningkatkan peredaran barang

 

5.  Sebagai alat stabilistas ekonomi


 

 

6.  Untuk meningkatkan kegairahan berusaha

 

7.  Untuk meningkatkan hubungan internasional

 

E.   Jenis- jenis Kredit

 

1.  Dilihat dari segi kegunaan

 

a.    Kredit investasi

 

Digunakan untuk keperlun perluasan usaha atau untuk keperluan rehabilitasi. b.  Kredit modal kerja

Digunakan untuk keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya.

 

2.  Dilihat dari segi tujuan kredit

 

a.    Kredit produktif

 

Kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi. Kredit ini diberikan untuk menghasilkan barang atau jasa.

b.  Kredit konsumtif

 

Kredit yang digunakan untuk dikonsumsi pribadi. c.   Kredit perdagangan

Kredit yang digunakan untuk perdagangan, biasanya  untuk membeli barang dagangan yang pembayarannya diharapakandari hasil penjualan tersebut.

3.  Dilihat dari segi jangka waktu

 

a.    Kredit jangka pendek

 

Kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun atau paling lama 1 tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja.

b.  Kredit jangka menengah


 

 

Jangka waktu kreditnya berkisar antara 1 tahun sampai 3 tahun, biasanya untuk investasi. c.   Kredit jangka panjang

Kredit  yang masa pengembaliannya  diatas 3 tahun atau  5 tahun, biasanya digunakan untuk investasi jangka panjang.

4.  Dilihat dari segi jaminan

 

a.    Kredit dengan jaminan

 

Kredit yang diberikan dengan suatu jaminan, jaminan tersebut dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud.

b.  Kredit tanpa jaminan

 

Kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang tertentu melainkan hanya dengan melihat prospek usaha dan karakter serta loyalitas atau nama baik si calon debitur.

5.  Dilihat dari segi sector usaha

 

a.    Kredit pertanian

 

b.  Kredit peternakan c.   Kredit industry

d.  Kredit pertambangan e.   Kredit pendidikan

f.   Kredit profesi

 

g.  Kredit perumahan

 

h.  Dan sector lain- lain


 

 

F.   Jaminan Kredit

 

Kredit  dapat dierikan dengan ataupun  tanpa  jaminan.  Kredit  tanpa  jaminan sangat membahayakan posisi bank, mengingat jika nasabah mengalami suatu kemacetan, maka sulit untuk menutupi kerugian terhadap kredit yang disalurkan. Sebaliknya dengan jaminan kredit relative lebih aman mengingat setiap kredit macet akan ditutupi dengan jaminan tersebut.

Adapun jaminan yang dapat digunakan oleh calon debitur adalah sebgai berikut:

 

1.  Dengan jaminan

 

a.    Jaminan benda berwujud, yaitu barang-barang yang dapat dijadikan jaminan seperti:

 

-    Tanah

 

-    Bangunan

 

-    Kendaraan bermotor

 

-    Mesin-mesin/ peralatan

 

-    Barang dagangan

 

-    Tanaman/ kebun/ sawah

 

-    Dan lainnya

 

b. Jaminan benda tidak berwujud yaitu benda-benda yang merupakan surat-surat yang dijadikan jaminan seperti:

-    Sertifikat saham

 

-    Sertifikat obligasi

 

-    Sertifikat tanah

 

-    Sertifikat deposito


 

 

-    Rekening tabungan yang dibekukan

 

-    Rekening giro yang dibekukan

 

-    Promes

 

-    Wesel

 

-    Dan surat tagihan lainnya c.   Jaminan orang

Yaitu jaminan yang diberikan oleh seseorang apabila kredit tersebut macet, maka orang yang memberikan jaminan itulah yang menanggung resikonya.

2.  Tanpa jaminan

 

Kredit  tanpa jaminan maksudnya adalah bahwa kredit yang diberikan bukan dengan jaminan  barang tertentu. Biasanya diberikan untuk perusahaan  yang memang benar-benar bonafid dan professional sehingga kemungkinan kredit macet sangat kecil. Dapat pula kredit tanpa jaminan hanya dengan penilaian terhadap prospek usahanya atau dengan pertimbangan untuk pengusaha-pengusaha ekonomi lemah.

G.  Prinsip-prinsip Pemberian Kredit

 

Sebelum suatu fasilitas kredit diberikan, bank harus yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar akan kembali. Keyakinan tersebut diperoleh melalui hasil penilaian kredit  sebelum kredit  tersebut disalurkan.  Penilain  kredit  dapat dilakukan  dengan berbagai cara untuk mendapat keyakinan tentang nasabahnya, seperti melalui prosedur penilaian yang benar. Criteria penilaian yang harus dilakukan oleh bank untuk mendapat nasabah yang benar-benar menguntungkan dilakukan dengan analisis 5C dan 7P.


 

 

Adapun penjelasan untuk analisis 5C Kredit adalah sebagai berikut:

 

1.   Character

 

Suatu keyakinan  bahwa, sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar dipercaya, hal ini tercermin dari latarbelakang si nasabah baik yang bersifat latarbelakang pekerjaan maupun latar belakang pribadi seperti: cara hidup atau gaya hidup yang dianutnya,  keadaan keluarga,  hobby dan social  standingya.  Ini  semua merupakan ukuran kemauan” membayar.

2.   Capacity

 

Untuk melihat nasabah dalam kemampuannya dalam bidang bisnis yang dihubungkan dengan pendidikannya, kemampuan  bisnisnya  juga diukur  dengan kemampuannya memahami   ketentuan-ketentuan pemerintah.   Begitu   pula   kemampuannya   dalam menjalankan usahanya selam ini. Pada akhirnya akan terlihat kemampuannya dalam mengembalikan kredit yang disalurkan.

3.   Capital

 

Untuk melihat penggunaan modal apakah efektif, dilihat laporan keuangan (neraca dan laporan  laba-rugi)  dengan melakukan  pengukuran rasio keuangan  seperti likuiditas, solvabilitas, pasar, aktivitas dan profitabilitas. Capital juga harus dilihat dari mana saja modal yang ada sekarang ini.

4.   Collateral

 

Merupakan jaminan yang diberikan oleh calon nasabah baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Jaminan hendaknya melebihi jumlah kredit yang diberikan. Jaminan juga harus


 

 

ditelit keabsahannya sehingga jika terjadi suatu masalah, maka jaminan yang dititipkan akan dapat digunakan secepat mungkin.

5.   Condition

 

Dalm menilai kredit hendaknya juga dinilai kondisi ekonomi dan politik saat ini dan di masa yang akan dating sesuai sector masing-masing, serta prospek usaha dari sector yang ia  jalankan.  Penilain  prospek bidang usaha  yang  dibiayai  hendaknya  benar-benar memiliki prospek yang baik sehingga kemungkinan kredit tersebut bermasalah relative kecil.

Kemudian penilain kredit dengan metode analisis 7 P adalah sebagai berikut:

 

1.   Personality

 

Yaitu menilai nasabah dari segi kepribadiannya atau tingkah lakunya sehari-hari maupun masa  lalunya. Personality juga mencakup  sikap, emosi, tingkah  laku  dan tindakan nasabah dalam menghadapi suatu masalah.

2.   Party

 

Yaitu mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi tertentu atau golongan-golongan tertentu  berdasarkan  modal, loyalitas  serta  karakternya. Sehingga nasabah   dapat digolongkan ke golongan tertentu dan akan mendapatkan  fasilitas  yang berbeda dari bank.

3.   Purpose

 

Yaitu untuk mengetahui tujuan nasabah dalam mengambil kredit, termasuk jenis kredit dapat bermacam-macam.  Sebagai contoh apakah  untuk modal kerja  atau  investasi, konsumtif atau produktif dan lain sebagainya.


 

 

4.   Prospect

 

Yaitu untuk menilai usaha nasabah di masa yang akan dating menguntungkan atau tidak, atau dengan kata lain mempunyai prospek atau sebaliknya. Hal ini penting jika mengingat jika suatu fasilitas kredit yang dibiayai tanpa memepunyai prospek, bukan hanya bank yang rugi tetapi juga nasabah.

5.   Payment

 

Merupakan ukuran bagaimana cara nasabah mengembalikan kredit yang telah diambil atau dari sumber mana saja dana untuk pengembalian kredit. Semakin banyak sumber penghasilan debitur, akan semakin baik. Dengan demikian apabila salah satu usahanya merugikan  maka akan ada sector lain yang menutupi.

6.   Profitability

 

Untuk menganalisis bagaimana kemampuan  nasabah dalam mencari laba. Profitability diukur dari period eke periode apakah akan tetap sama atau akan semakin meningkat, apalagi dengan tambahan kredit yang akan diperolehnya.

7.   Protection

 

Menjaga agar usaha dan jaminan mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang atau orang atau jaminan asuransi.

 

 

 

H. Aspek-aspek dalam Penilain Kredit

 

Disamping 5 C dan 7 P, untuk menilai kelayakan pengajuan kredit dari nasabah maka  harus dilakukan penilain terhadap berbagai aspek. Penilaian seluruh aspek yang


 

 

ada disebut studi kelayakan usaha. Penilain model ini biasanya untuk proyek-proyek yang bernilai besar dan jangka waktu panjang.

Aspek-aspek yang dinilai antara lain sebagai berikut:

 

1. Aspek Yuridis/ Hukum

 

Yang dinilai dalam aspek ini adalah legalitas badan usaha serta izin-izin  yang dimiliki perusahaan  dalam mengajukan kredit. Penilain dimulai  melalui akte pendirian usaha sehingga diketahui siap-siap pemilk dan besar masing-masing modal pemilik. Selain itu diteliti berbagai perizinan usaha seperti:

a.    Surat Izin Usaha Industri (SIUI) untuk sektor industri;

 

b.  Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)  untuk sektor perdagangan;

 

c.   Tanda Daftar Perusahaan (TDP);

 

d.  Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

 

e.   Kebsahan surat-surat yang dijaminkan seperti sertifikat tanah dll;

 

f.   Serta hal-hal yang dianggap penting lainnya.

 

2.   Aspek Pemasaran

 

Penilaian  pada aspek  pemasaran  berfokus  pada permintaan  terhadap produk yang dihasilkan calon nasabah saat ini dan di masa yang akan dating atau prospek usaha nasabah. Aspek yang diteliti antara lain:

a.   Pemasaran produknya minimal tiga bulan atau tiga tahun yang lalu;

 

b. Rencana  penjualan  dan produksi minimal  tiga bulan  atau  tiga tahun  yang akan datang;

c.   Peta kekuatan pesaing yang ada;


 

 

d.  Prospek produk secara keseluruhan.

 

3.  Aspek Keuangan

 

Aspek yang dinilai  adalah  sumber dana dan manajemen  keuangannya. Disamping itu dibuatkan cash flow dari pada perusahaan tersebut.

Penilaian bank dari segi keuangan biasanya  dengan suatu criteria  kelayakan  investasi yang mencakup antara lain:

a.    Rasio-rasio keuangan; likuiditas, sovabilitas, aktivitas, profitabilitas dan pasar b.  Payback period

c.   Net Present Value (NPV)

 

d.  Profitability index (PI)

 

e.   Internal Rate of Return (IRR)

 

f.   Break Even Point (BEP)

 

4.  Aspek Teknis/ Operasi

 

Aspek  ini  membahas  hal yang berkaitan  dengan produksi seperti kapasitas  mesin, masalah lokasi, lay out ruangan dan mesin-mesin termasuk jenis mesin.

5.  Aspek Manajemen

 

Menilai struktur organisasi perusahaan, SDM dan latar belakang personalia. Pengalaman perusahaan dalam mengelola berbagai proyek dan pertimbangan lainnya.

6.  Aspek Sosial Ekonomi

 

Menganalisis dampaknya terhadap masyarakat umum dan perekonomian seperti:

 

a.   Meningkatkan  ekspor barang;

 

b.  Mengurangi pengamgguran dan lainnya;


 

 

c.   Meningkatkan pendapatan masyarakat;

 

d.  Tersedianya sarana dan prasarana;

 

e.   Membuka isolasi daerah tertentu.

 

7.  Aspek AMDAL

 

Menyangkut analisis terhadap dampak lingkungan yang ditimbulka jika proyek tersebut dijalankan. Analisis  ini dilakukan secara mendalam apakah apabila kredit ini disalurkan,  maka proyek yang dibiayai  akan menyembakan pencemaran:  pencemaran yang sering terjadi antara lain:

a.    Tanah/ darat menjadi gersang

 

b.  Air, menjadi limbah berbau busuk, berubah warna maupun rasa c.   Mengakibatkan polusi udara, berdebu, bising, panas.

 

 

 

I.     Prosedur dalam Pemberian Kredit

 

Prosedur pemberian dan penilaian kredit oleh dunia perbankan secara umum antar  bank satu  dengan bank lainnya  tidak jauh  berbeda. Yang  menjadi  perbedaan mungkin  pada prosedur  maupun   persyaratan   yang  ditetapkan   dengan berbagai pertimbangan masing-masing.

Pemberian kredit secara umum dibedakan  antara pinjaman  perseorangan  dan pinjaman oleh suatu badan hokum dan dari segi tujuannya apakah untuk konsumtif atau produktif. Secara umum pemberian kredit kepada badan hokum antara lain:

1.  Pengajuan berkas-berkas


 

 

Dalam pengajuan kredit, pemohon harus menuangkan ke dalam proposal yang dilampiri dengan berbagai berkas yang diperlukan. Pengajuan proposal hendaknya berisi sebagai berikut:

a.    Latar belakang perusahaan  seperti daftar riwayat hidup singkat perusahaan, jenis bidang usaha, jenis bidang usaha, identitas perusahaan, latar  belakang  organisasi perusahaan  perkembangan  dan relasi  perusahaan dengan pihak pemerintah  dan swasta.

b.  Maksud dan tujuan

 

c.   Besarnya kredit dan jangka waktu

 

d.  Cara pemohon mengembalikan kreditnya

 

e.   Jaminan  kredit. Jaminan  berguna untuk menutupi resiko terhadap kredit  macet.

 

Selanjutnya proposal ini dilampiri berkas-berkas yang telah dipersyaratkan seperti:

 

-    Akte notaries

 

-    TDP (Tanda Daftar Perusahaan)

 

-    NPWP

 

-    Laporan Keuangan tiga tahun terakhir

 

Penilaian dari laporan keuangan meliputi

 

Ø Current ratio

 

Ø Acid test ratio

 

Ø Inventory turn over

 

Ø Sales to receivable ratio

 

Ø Profit margin ratio


 

 

Ø Return on net worth

 

Ø Working capital

 

-    Bukti diri dari pimpinan perusahaan

 

-    Fotokopi sertifikat jaminan

 

2.  Penyelidikan berkas pinjaman

 

Bertujuan untuk memeriksa kelengkapan berkas pengajuan kredit sesuai persyaratan yang benar. Apakah pihak pemohon mampu melengkapi atau tidak berkas yang kurang atau tidak lengkap.

3.  Wawancara I

 

Penyidikan  kepada calon  peminjam,  untuk  meyakinkan berkas-berkas sudah sesuai dengan persyaratan pihak bank. Wawancara ini juga bertujuan untuk mengetahui tujuan dan kebutuhan nasabah sebenarnya.

4.  On The Spot

 

Merupakan kegiatan  meninjau  secara  langsung  ke  lapangan  taerhadap  objek yang dijadikan   jaminan,    hasil on  the   spot di crosscheck dengan  hasil   wawancara   I, sebaiknya on the spot dirahasiakan kepada pihak pemohon agar didapat data yang benar sesuai kenyataan.

5.  Wawancara II

 

Merupakan  kegiatan   perbaikan  berkas,  jika   mungkin   ada   kekurangan  setelah dilakukan on the spot. Catatn yang ada  pada pemohon saat  wawancara I dicocokkan dengan hasil on the spot apakah ada kesesuaian atau mengandung suatu kebenaran


 

 

6.  Keputusan kredit

 

Keputusan kredit dalam hal ini adalah menentukan apakah kredit akan diberikan  atau ditolak, jika diterima, maka dipersiapkan administrasinya,  biasanya keputusan kredit yang akan mencakup:

ü jumlah uang yang diterima

 

ü jangka waktu kredit

 

ü dan biaya-biaya yang harus dibayar.

 

Keputusan  kredit biasanya merupakan keputusan  team. Begitu pula bagi kredit yang ditolak,  maka hendaknya dikirim  surat penolakan  sesuai dengan alasannya  masing- masing.

7.  Penandatanganan akad kredit/perjanjian lainnya.

 

Kegiatan  ini  merupakan kelanjutan  dari diputuskannya kredit, maka  sebelum kredit dicairkan maka  terlebih dulu calon  nasabah  menandatangani  akad  kredit,  mengikat jaminan  dengan hipotek dan surat perjanjian  atau  pernyataan  yang dianggap  perlu. Penandatanganan dilaksanakan:

ü antara bank dengan debitur secara langsung atau

 

ü dengan melalui notaris.

 

8.  Realisasi kredit

 

Realisasi kredit diberikan setelah penandatanganan surat-surat yang diperlukan dengan membuka rekening giro atau tabungan di bank yang bersangkutan.


 

 

9.  Penyaluran/penarikan dana

 

Adalah pencairan atau pengambilan uang dari rekening sebagai realisasi dari pemberian kredit dan dapat diambil sesuai ketentuan dan tujuan kredit yaitu:

ü sekaligus atau

 

ü secara bertahap

 

J.    Kualitas Kredit

 

Hidup matinya  suatu bank sangatlah  dipengaruhi oleh jumlah  kredit  yang disalurkan dalam suatu periode. Artinya, semakin banyak kredit yang disalurkan, semakin besar  pula  perolehan laba  dari  bidang ini.  Bahkan  hampir  semua bank  masih mengandalkan penghasilan utamanya dari jumlah penyaluran kreditnya (spread based), di samping dari penghasilan  atas fee based yang berupa  biaya biaya  dari jasa-jasa  bank lainnya yang dibebankan ke nasabah.

Dalam praktiknya banyaknya jumlah kredit yang disalurkan juga harus memerhatikan kualitas kredit tersebut. Artinya, semakin berkualitas kredit yang diberikan atau memang layak untuk disalurkan, akan memperkecil risiko terhadap kemungkinan kredit tersebut bermasalah. Dalam hal ini prinsip kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit perlu memerhatikan kualitas kredit. Bukan tidak mungkin kredit yang jumlahnya cukup banyak akan  mengakibatkan kerugian apabila  kredit yang disalurkan tersebut ternyata tidak berkualitas dan mengakibatkan kredit tersebut bermasalah.

Oleh karena itu, dalam melepas kreditnya agar berkualitas pihak perbankan perlu memerhatikan dua unsur, yaitu sebagai berikut.


 

 

1. Tingkat  perolehan laba  (return),  artinya  jumlah  laba  yang akan  diperoleh atas penyaluran kredit. Jumlah perolehan laba tersebut harus memenuhi ketentuan yang berlaku apabila ingin dinilai baik kesehatannya.

2. Tingkat   risiko   (risk).  Artinya   tingkat  risiko   yang  akan   dihadapi   terhadap kemungkinan melesetnya perolehan laba bank dari kredit yang disalurkan.

Dalam memenuhi tingkat perolehan laba bank agar dapat dikatakan memenuhi kriteria ketentuan yang berlaku, perbankan harus memerhatikan empat faktor seperti di bawah ini agar kesehatan bank dapat diukur sesuai ketentuan tersebut :

1.  Tingkat Return On Assets (ROA)

 

2.  Return On Equity (ROE)

 

3.  Timing of Return (waktu perolehan laba)

 

4.  dan Future Prospect (prospek ke depan/di masa yang akan datang).

 

Selanjutnya, tingkat perolehan laba bank juga harus mengetahui risiko-risiko yang akan dihadapinya. Risiko ini merupakan kondisi dan situasi yang akan dihadapi di masa yang akan datang yang sangat besar pengaruhnya terhadap perolehan laba bank. Secara umum jenis-jenis risiko  yang mungkin atau bakal dihadapi  meliputi sebagai berikut.

1.   Risiko Lingkungan

 

Risiko lingkungan, artinya risiko yang berkaitan dengan lingkungan perbankan terutama yang berkaitan dengan lingkungan luar (eksternal) perbankan. Risiko lingkungan terdiri dari beberapa risiko antara lain; risiko ekonomi, risiko kompetisi, dan risiko peraturan.


 

 

2.  Risiko Manajemen

 

Risiko  manajemen, artinya risiko yang berkaitan dengan risiko dari dalam perusahaan

 

(internal) seperti risiko organsiasi, risiko kemampuan, dan risiko kegagalan.

 

3.  Risiko Penyerahan

 

Risiko  penyerahan juga lebih terpengaruh oleh internal bank seperti risiko operasional, risiko teknologi, dan risiko strategik.

4.  Risiko Keuangan

 

Risiko keuangan berkaitan erat dengan pengaruh internal dan eksternal bank seperti risiko kredit, risiko likuiditas, risiko suku bunga, risiko leverage, dan risiko internasional.

Agar kredit yang disalurkan oleh suatu bank memiliki kualitas kredit yang baik, perlu dilakukan pemisahan fungsi dalam organisasi kredit. Pemisahan ini dilakukan agar masing-masing fungsi dapat bekerja secara baik dan memperkecil terjadinya penilaian yang tidak objektif  dengan berbagai  sebab yang berpotensi terjadinya penyimpangan yang akhirnya akan menyebabkan kredit yang disalurkan bermasalah.

Seperti diketahui bahwa di dalam  manajemen  kredit terdapat beberapa fungsi sehingga memudahkan  bank untuk menjalankan  aktivitas  kreditnya. Oleh  karena itu, pemisahan fungsi dalam organisasi kredit juga harus memerhatikan keberadaan fungsi fungsi tersebut.

Berikut ini pemisahan fungsi dalam organisasi kredit pada umumnya  terdiri dari:

 

1.  pemasaran kredit

 

2.  analisis kredit;

 

3.  taksasi jaminan;


 

 

4.  administrasi kredit;

 

5.  audit kredit.

 

Tujuannya pemisahan fungsi kredit ini tidak lain adalah agar pengelolaan suatu permohonan kredit dapat diproses secara benar, lengkap, teliti dan sempurna sehingga memiliki risiko rendah dan tidak menimbulkan masalah. Penilaian dimulai dari pertama sekali permohonan kredit diajukan sampai dengan kredit berjalan dan berakhir.

Sekalipun terjadi pemisahan fungsi kredit, semua fungsi harus berjalan seiring dengan satu tujuan sehingga sesuai dengan harapan  manajamen  sebelumnya. Semua bagian juga harus bekerja sama, bukan saling menjatuhkan.

Banyak  cara  agar  kredit  yang diberikan oleh perbankan memiliki  kualitas. Dalam memutuskan suatu permohonan kredit yang akan diberikan kepada nasabah agar berkualitas,  sebaiknya perlu dibentuk komite  kredit  (loan  committees). Komite  ini bertugas memberikan pelayanan hal-hal yang berkaitan dengan kredit yang disalurkan. Secara umum tugas komite kredit ini adalah sebagai berikut.

1. Membuat keputusan dan penelaahan kredit baru, artinya setiap adanya permohonan kredit baru, perlu ditelaah secara benar tentang kelayakan kredit sebelum diambil keputusan.

2. Memastikan kelengkapan dokumen kredit, artinya dalam pengajuan kredit, apa pun syarat kelengkapan dokumen mutlak untuk diserahkan. Syarat ini merupakan salah satu aspek penilaian kelayakan suatu kredit sehingga tidak menimbulkan masalah ke depan.


 

 

3. Persetujuan  perpanjangan  kredit,  artinya   bagi  kredit  yang  sudah akhir   masa pinjamannya  dan nasabah tersebut masih ingin memperpanjang kredit karena sesuatu hal, komite kembali harus memberikan persetujuan apakah kredit tersebut layak atau tidak untuk diperpanjang dengan pertimbangan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

4. Perubahan kondisi dan syarat kredit, artinya kalau kondisi nasabah dengan situasi yang berkembang di luar menyebabkan  nasabah mengalami kesulitan, pihak perbankan perlu melakukan perubahan tentang kondisi dan syarat kredit, misalnya perubahan jangka waktu pembayaran, atau bunga yang dibebankan ke nasabah.

Untuk  menentukan  berkualitas  atau  tidaknya  suatu kredit  perlu  diberikan ukuran-ukuran tertentu.  Bank  Indonesia  menggolongkan kualitas  kredit  menurut ketentuan sebagai berikut.

1.   Lancar (pas)

 

Suatu kredit dapat dikatakan lancar apabila:

 

a.   pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu; dan b.  pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu; dan c.   memiliki mutasi rekening yang aktif atau;

d.  bagian dari kredit yang dijamin dengan agunan tunai (cash collateral).

 

2.  Dalam Perhatian Khusus (special mention)

 

Dikatakan dalam perhatian khusus apabila memenuhi kriteria antara lain:

 

a.    terdapat tunggakan pembayaran  angsuran  pokok  dan/atau  bunga yang  belum melampaui 90 hari atau


 

 

b.  kadang-kadang terjadi cerukan atau

 

c.   jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan; atau d.  mutasi rekening reklatif aktif; atau

e.   didukung dengan pinjaman baru.

 

3.  Kurang Lancar (substandard)

 

Dikatakan kurang lancar apabila memenuhi kriteria di antaranya:

 

a.    terdapat tunggakan  pembayaran   angsuran  pokok  dan/atau   bunga yang  telah melampaui 90 hari; atau

b.  sering terjadi cerukan, atau

 

c.   tejadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari;

 

d.  frekuensi mutasi rekening reklatif rendah; atau

 

e.   terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur;

 

f.   dokumen pinjaman yang lemah.

 

4.  Diragukan (doubtful)

 

Dikatakan diragukan apabila memenuhi kriteria di antaranya:


 

 

5.  Macet (loss)

 

Dikatakan macet apabila memenuhi kriteria antara lain :

 

a.    terdapat tunggakan  pembayaran   angsuran   pokok  dan/atau   bunga yang  telah melampaui 270 hari; atau

b.  kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru dari segi hukum c.   kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai yang wajar.

 

Selanjutnya, dalam  rangka penetapan  kriteria  kualitas kredit serta  penentuan tingkat kesehatan bank, dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :

 

No

.

Kriteria

Bobot

1

Permodalan (Capital Adequacy Ratio)

20,0 %

2

Aktiva Produktif

 

 

a Non Performing Loan (NPL)

12,5%

 

b.Pemenuhan PPAP

7,5%

3

Rentabilitas

 

 

a Return On Average Assets

10,0%

 

b Return on Average Equity

10,0%

4

Likuiditas

 

 

a Loan to Deposit Ratio (LDR)

15,0 %

 

b Pertumbuhan Kredit/Pertumbuhan Dana

5,0 %

5

Efisiensi

 

 

a. Beban Operasional/Pendapatan Operasional (BOPO)

10,0 %

 

b. Net Intrest Margin (NIM)

10,0 %

 

TOTAL

100,0 %

 

 

K.   Teknik Penyelesaian Kredit Macet


 

 

Sepandai apa pun analis kredit dalam menganalisis setiap permohonan kredit, kemungkinan kredit tersebut macet pasti ada, hal ini disebabkan oleh dua unsur sebagai berikut.

a.    Dari pihak perbankan

 

Artinya dalam melakukan analisisnya, pihak analisis kurang teliti sehingga apa yang seharusnya terjadi, tidak diprediksi sebelumnya. Dapat pula terjadi akibat kolusi dari pihak analis kredit dengan pihak debitur sehingga dalam analisnya dilakukan secara subjektif.

b.  Dari pihak nasabah.

 

Dari pihak nasabah kemacetan kredit dapat dilakukan akibat dua hal yaitu:

 

a.   adanya  unsur kesengajaan. Dalam hal ini nasabah sengaja untuk tidak bermaksud membayar kewajibannya kepada bank sehingga kredit yang diberikan macet. Dapat dikatakan tidak adanya unsur kemauan untuk membayar;

b. adanya unsur tidak sengaja. Artinya  si debitur mau membayar,tetapi  tidak mampu, sebagai contoh kredit yang dibiayai mengalami  musibah seperti kebakaran, kena hama, kebanjiran, dan sebagainya.  Sehingga kemampuan untuk membayar kredit tidak ada.

Dalam hal kredit macet pihak bank perlu melakukan penyelamatan sehingga tidak akan menimbulkan kerugian. Penyelamatan yang dilakukan apakah dengan memberikan keringanan berupa jangka waktu atau angsuran terutama bagi kredit terkena musibah atau melakukan  penyitaan bagi kredit yang sengaja lalai untuk membayar. Terhadap kredit


 

 

yang mengalami  kemacetan  sebaiknya dilakukan  penyelamatan  sehingga bank tidak mengalami kerugian.

 

 

 

 

 

Penyelamatan terhadap kredit macet dilakukan dengan cara sebagai berikut :

 

1.  Rescheduling

 

ü  Memperpanjang jangka waktu kredit

 

Dalam hal ini si debitur diberikan keringanan dalam masalah jangka waktu kredit misalnya perpanjangan jangka waktu kredit dari 6 bulan menjadi satu tahun sehingga si debitur mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikannya.

ü  Memperpanjang jangka waktu angsuran

 

Memperpanjang angsuran hampir sama dengan jangka waktu kredit. Dalam hal ini jangka waktu angsuran kreditnya diperpanjang pembayarannya pun misalnya dari 36 kali menjadi 48 kali dan hal ini tentu saja jumlah angsuran pun menjadi mengecil seiring dengan penambahan jumlah angsuran.

2.  Reconditioning

 

Dengan cara mengubah berbagai persyaratan yang ada seperti berikut ini. a.    Kapitalisasi bunga, yaitu bunga dijadikan utang pokok.

b.  Penundaan pembayaran bunga sampai waktu tertentu

 

Dalam hal penundaan pembayaran bunga sampai waktu tertentu, maksudnya hanya bunga yang dapat ditunda pembayarannya,  sedangkan pokok pinjamannya  tetap harus dibayar seperti biasa.


 

 

c.   Penurunan suku bunga

 

Penurunan suku bunga dimaksudkan  agar lebih meringankan beban nasabah. Sebagai contoh jika bunga per tahun sebelumnya dibebankan 20% diturunkan menjadi 18%, hal ini tergantung dari pertimbangan yang bersangkutan. Penurunan suku bunga akan memengaruhi jumlah angsuran yang semakin mengecil sehingga diharapkan dapat membantu meringankan nasabah.

d.  Pembebasan bunga

 

Dalam  pembebasan suku bunga diberikan kepada nasabah  dengan pertimbangan nasabah sudah akan mampu lagi membayar kredit tersebut. Akan tetapi, nasabah tetap mempunyai kewajiban untuk membayar pokok pinjamannya sampai lunas.

3.   Restructuring

 

a.  Dengan menambah jumlah kredit

 

b.  Dengan menambah equity:

 

ü dengan menyetor uang tunai

 

ü tambahan dari pemilik

 

4.   Kombinasi

 

Merupakan kombinasi dari ketiga jenis yang di atas.

 

5.   Penyitaan jaminan

 

Penyitaan jaminan  merupakan jalan  terakhir apabila  nasabah sudah benar-benar tidak punya etiket, baik ataupun  sudah tidak mampu lagi untuk membayar semua utang- utangnya.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 <script data-ad-client="ca-pub-4611340435162716" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>

 

Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Revisi, Jakarta: Rajagrafindo Persada.2012

No comments:

Post a Comment